Toko Permen Ayahku
Hari ini pengunjung sangat ramai sekali, dari pagi sampai malam aku
belum beristirahat. Bahkan aku sampai lupa kalau hari ini aku ada janji dengan
temanku. Untung saja temanku tidak marah. Ya inilah kesibukanku setiap akhir
pekan. Bukannya beristirahat dengan tenang, malah melakukan aktifitas yang lelahnya
sangat luar biasa sekali. Tapi itu belum seberapa. Ayahku lebih lelah daripada
aku. Ia bahkan dari pagi-pagi buta sudah bangun dan membuat permen. Sedikit
cerita mengapa ayahku membuka toko permen. Dulu waktu ayahku kecil, ayahku suka
sekali makan permen dan bahkan ia belajar dengan keras agar mendapat beasiswa
keluar negeri untuk belajar bagaimana cara membuat permen yang berkualitas
dengan rasa yang enak dan harganya dapat dijangkau oleh semua kalangan. Semangat
ayahku sangat keras seperti baja dan pada akhirnya cita-cita ayahku menjadi
kenyataan. Ketika aku berumur tiga tahun ayahku sudah mempunyai toko permen
sendiri dan merupakan satu-satunya toko permen di kota kami. Oleh karena itu
setiap akhir pekan banyak sekali orang yang berkunjung ke toko ayahku. Jika
kalian bertanya tentang ibuku, aku juga tidak tahu dimana keberadaannya. Ayahku
selalu merahasiakan ketika aku menanyakannya. Hingga akhirnya aku tidak berani
bertanya lagi. Padahal aku benar-benar ingin merasakan bagaimana rasanya
mempunyai seorang ibu yang selalu memperhatikan aku. Tapi aku masih tetap harus
bersyukur karena aku mempunyai ayah yang sayang terhadapku dan tiga kakak laki-laki
yang selalu menjagaku. Kakakku yang pertama bernama Adelino, kakakku yang kedua
bernama Dalvin dan kakakku yang ketiga bernama Eldwin. Tapi di rumah hanya ada
aku, ayah dan kak Eldwin saja, karena kedua kakakku yang lain sedang kuliah
diluar kota.
oh iya sampai lupa, namaku Alina. Orang-orang memanggilku Alin.
Kata ayahku nama itu artinya berani bisa juga dikatan nama yang terang dan
indah. Sekarang aku berusia 17 tahun. Aku bukan anak populer disekolah dan tidak
mempunyai paras berwajah cantik. Yang paling terpenting aku bangga menjadi
diriku sendiri dan aku tidak pernah iri dengan orang lain. Aku merasa cukup
dengan keadaanku saat ini.
Beberapa hari
kemudian ketika aku baru terbangun dari tidurku, tiba-tiba aku mendengar suara
ribut dari dalam kamar ayahku. Dengan segera aku pergi kesana.
“Kenapa sih ayah pagi-pagi udah ribut aja?” tanyaku sambil dengan
mata yang terkantuk-kantuk.
“Gawat..
ini gawat banget, kemana resep itu? ayah yakin banget kalau resep itu di taruh
disini. Ga mungkin bisa sampai hilang.” Ayahku menjawabnya dengan tatapan mata
yang sangat bingung.
“Resep apa sih ayah?” jawabku sekenanya.
“Resep permen. Resep permen itu. Dimana dia?” jawab ayahku dengan
tatapan mata yang memerah.
Aku membantunya dengan membongkar semua lemari atau apapun itu yang
ada dikamar ayahku. Sebenarnya aku juga tidak mengerti dan tidak tahu kalau
ayahku mempunyai resep rahasia yang benar-benar berharga baginya. Semenjak
kejadian itu ayahku menjadi murung dan sedih setiap hari. Aku dan kakakku
Eldwin hanya bisa diam tak tidak bisa berbuat apa-apa. Kami benar-benar tidak
habis pikir siapa yang sampai tega-teganya mengambil resep permen itu. Sampai
akhirnya aku mempunyai ide agar bisa menemukan kembali resep milik ayahku.
Ketika ayahku
sedang menjaga toko, diam-diam aku dan kak Eldwin pergi ke kamar ayah untuk
menyelidiki benda-benda atau apapun tulisan yang berhubungan dengan resep
permen tersebut. Siapa tahu saja kami mendapatkan informasi tentang keberadaan
resep itu sekarang. Setelah mencari cukup lama, kakakku menemukan sebuah buku
dan isinya adalah cerita masa lalu ayah ketika menemukan resep permen itu. Kami
menemukan sebuah nama yaitu Elora. Setelah kami pikir-pikir kembali tenyata
kami mengenalnya. Itu adalah bibi kami yang tinggal di sebelah kota ini, hanya
saja sudah lama sekali memang kami tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Akhirnya aku dan kak Eldwin memutuskan untuk pergi bertemu dengen bibi Elora.
Tetapi ketika izin dengan ayah, kami tidak bilang kalau akan pergi ke rumah
bibi Elora, karena kami tidak ingin sampai ayah tahu dengan penyelidikan yang
kami lakukan. Setelah perjalanan selama satu jam. Kami pun sampai disana.
“Kak, rumahnya sepi banget ya. Perasaan
dulu ga kaya gini deh.” Tanyaku dengan perasaan takut.
“Iya, jadi serem gitu ya. Yaudah yuk
masuk aja keburu sore nantinya.” Jawab Kak Eldwin.
Aku
dan Kak Eldwin masuk ke rumah itu, kami disambut dengan baik disana. Bibi Elora
masih mengenali kami, tetapi bibi Elora sedang sakit sehingga hanya terbaring
lemah tak berdaya di tempat tidurnya. Aku bertanya mengenai resep rahasia
buatan ayahku.
“Bibi, apakah tahu mengenai resep rahasia
ayah.” Aku bertanya penuh harap.
“Oh.... resep permen itu ya. Apakah
sekarang resep itu hilang?” Jawabnya tenang.
“Loh kok bibi tahu kalau resep ayah
hilang?” tanya kak Eldwin.
“Tentu saja tahu, karena hal ini sudah
bibi duga dari awal. Sebaiknya kalian tidak usah lagi mencarinya itu hanya akan
membahayakan nyawa kalian. Pulanglah dan jaga diri baik-baik.”
“Tapi ayah kami benar-benar merasa sedih
saat ini, kami tidak bisa membiarkannya begitu saja. Tolonglah bi, beri tahu
kami dimana kami bisa mendapatkan kembali resep permen itu.” Jawabku.
“Baiklah jika kalian memaksa. Dulu ayahmu
adalah orang yang sangat rajin dan bekerja keras. Tetapi ada seseorang yang
tidak suka dengan ayahmu sehingga ia melakukan segala cara untuk membuat ayahmu
sengsara. Namanya adalah Algis, bibi duga ia yang mencuri resep ayahmu. Bibi
juga tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi sudah bibi pastikan dialah orangnya. Jika
kalian benar-benar ingin mendaptkannya kembali. Bibi akan memberikan rencana
yang sudah bibi susun jika sewaktu-waktu hal ini sampai terjadi.’’
Bibi memberikan
kami sejumlah rencana untuk mengambil kembali resep itu. Menurutku itu adalah
rencana yang cemerlang. Lagi dan lagi aku tidak tahu mengapa bibiku sampai tahu
kalau resep permen ayahku akan hilang. Setelah kami melakukan perjalanan yang
sangat panjang, sampailah kami di sebuah pulau. Ketika kami turun dari perahu
kami bertanya kepada salah seorang warga mengenai orang yang bernama Algis.
Ternyata benar disana ada seorang bangsawan bernama Algis. Lantas kami langsung
pergi kerumah bangsawan tersebut. Kami melakukan rencana yang telah dirancang
oleh bibi. Satu persatu rencana kami mulai berhasil dan terselesaikan dengan
baik. Kami menyamar menjadi seorang anak yang tersesat dan meminta bantuan
kepada bangsawan itu. Sampai kami bekerja ditempatnya. Tinggal satu lagi,
rencana terakhir kami untuk mendapatkan kembali resep rahasia itu. Ketika itu
diam-diam kami pergi kekamarnya. Mencari dilemari bahkan disetiap sudut
ruangan. Kata bibi, resep itu disimpan pada sebuah botol berwarna putih. Dan akhirnya
aku menemukan botol itu, ya sangat persis dengan apa yang dikatakan oleh bibi.
Ketika itu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kami benar-benar kaget ternyata
bangsawan itu berdiri didepan pintu. “Apa yang sedang kalian lakukan disana?
Seharusnya kalian tidak boleh melakukan itu. Akan kuberi pelajaran dan kalian
tidak boleh keluar dari pulau ini selama-lamanya.”
Mendengar
omongan bangsawan itu aku dan kakakku benar-benar merasa takut sekali. Kami
langsung berlari melewati jendela dan dibelakang kami sekitar sepuluh orang
berbadan tegap mengejar kami. Kami berlari sekuat tenaga dan akhirnya kami
berhasil sampai dengan perahu yang sudah kami siapkan sebelumnya. Sepuluh orang
tersebut ternyata juga mengejar kami dengan menggunakan perahu. Aku dan
kakakku
pasrah dengan apa yang akan terjadi. Kami hanya berdiam dan tidak melakukan
apapun. Tetapi tiba-tiba suatu keajaiban mucul. Perahu mereka menabrak karang. Aku
dan kakakku segera mengayuh perahu dengan cepat. Sampailah kami di daratan. Dengan
segera pulang kerumah dengan perjalanan yang sangat panjang. Akhirnya kami
sampai dirumah. Ingin sekali aku menceritakan semuanya kepada ayah. Ketika kami
baru sampai di ujung gang, ayah sudah berdiri didepan tokonya. Aku dan kakakku
segera berlari.
“Ayah... aku kangen banget sama ayah.”
Sambil memeluk ayah.
“Kalian ini ya.. udah dibilangin jangan
kesana masih nekat juga.” Sambil merebut botol yang kak Eldwin pegang.”
“Ayah kok tahu kami pergi kesana.” Tanya
kakakku.
“Sudah kalian jangan banyak tanya lagi.
Pokokknya lain kali harus jujur sama ayah dan ga boleh pergi ketempat jauh.”
Jawab ayahku sambil pergi masuk kedalam toko.
Kak
Eldwin mengikuti ayah masuk kedalam toko, mungkin kak Eldwin lelah karena
petualangan yang baru saja kami alami. Aku tetap berdiri diluar dan memandangi
ayah yang senang sekali mendapatkan resep itu kembali. Aku tetap merasa aneh
dan seperti ada rahasia yang masih sembunyikan oleh ayah. Resep itu pun masih
menjadi misteri. Mengapa seseorang yang bernama Algis bisa sampai mengambil
resep permen itu. Begitu pula mengenai ibuku, rahasia yang mungkin tidak akan
pernah terungkap. Aku hanya bisa menatap toko permen yang didirikan ayah dengan
kerja kerasnya dengan sejumlah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah tahu
jawabannya.