Rabu, 30 April 2014

Toko Permen Ayahku


Toko Permen Ayahku
Hari ini pengunjung sangat ramai sekali, dari pagi sampai malam aku belum beristirahat. Bahkan aku sampai lupa kalau hari ini aku ada janji dengan temanku. Untung saja temanku tidak marah. Ya inilah kesibukanku setiap akhir pekan. Bukannya beristirahat dengan tenang, malah melakukan aktifitas yang lelahnya sangat luar biasa sekali. Tapi itu belum seberapa. Ayahku lebih lelah daripada aku. Ia bahkan dari pagi-pagi buta sudah bangun dan membuat permen. Sedikit cerita mengapa ayahku membuka toko permen. Dulu waktu ayahku kecil, ayahku suka sekali makan permen dan bahkan ia belajar dengan keras agar mendapat beasiswa keluar negeri untuk belajar bagaimana cara membuat permen yang berkualitas dengan rasa yang enak dan harganya dapat dijangkau oleh semua kalangan. Semangat ayahku sangat keras seperti baja dan pada akhirnya cita-cita ayahku menjadi kenyataan. Ketika aku berumur tiga tahun ayahku sudah mempunyai toko permen sendiri dan merupakan satu-satunya toko permen di kota kami. Oleh karena itu setiap akhir pekan banyak sekali orang yang berkunjung ke toko ayahku. Jika kalian bertanya tentang ibuku, aku juga tidak tahu dimana keberadaannya. Ayahku selalu merahasiakan ketika aku menanyakannya. Hingga akhirnya aku tidak berani bertanya lagi. Padahal aku benar-benar ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang ibu yang selalu memperhatikan aku. Tapi aku masih tetap harus bersyukur karena aku mempunyai ayah yang sayang terhadapku dan tiga kakak laki-laki yang selalu menjagaku. Kakakku yang pertama bernama Adelino, kakakku yang kedua bernama Dalvin dan kakakku yang ketiga bernama Eldwin. Tapi di rumah hanya ada aku, ayah dan kak Eldwin saja, karena kedua kakakku yang lain sedang kuliah diluar kota.
oh iya sampai lupa, namaku Alina. Orang-orang memanggilku Alin. Kata ayahku nama itu artinya berani bisa juga dikatan nama yang terang dan indah. Sekarang aku berusia 17 tahun. Aku bukan anak populer disekolah dan tidak mempunyai paras berwajah cantik. Yang paling terpenting aku bangga menjadi diriku sendiri dan aku tidak pernah iri dengan orang lain. Aku merasa cukup dengan keadaanku saat ini.
Beberapa hari kemudian ketika aku baru terbangun dari tidurku, tiba-tiba aku mendengar suara ribut dari dalam kamar ayahku. Dengan segera aku pergi kesana.
“Kenapa sih ayah pagi-pagi udah ribut aja?” tanyaku sambil dengan mata yang terkantuk-kantuk.
“Gawat.. ini gawat banget, kemana resep itu? ayah yakin banget kalau resep itu di taruh disini. Ga mungkin bisa sampai hilang.” Ayahku menjawabnya dengan tatapan mata yang sangat bingung.
“Resep apa sih ayah?” jawabku sekenanya.
“Resep permen. Resep permen itu. Dimana dia?” jawab ayahku dengan tatapan mata yang memerah.
Aku membantunya dengan membongkar semua lemari atau apapun itu yang ada dikamar ayahku. Sebenarnya aku juga tidak mengerti dan tidak tahu kalau ayahku mempunyai resep rahasia yang benar-benar berharga baginya. Semenjak kejadian itu ayahku menjadi murung dan sedih setiap hari. Aku dan kakakku Eldwin hanya bisa diam tak tidak bisa berbuat apa-apa. Kami benar-benar tidak habis pikir siapa yang sampai tega-teganya mengambil resep permen itu. Sampai akhirnya aku mempunyai ide agar bisa menemukan kembali resep milik ayahku.
Ketika ayahku sedang menjaga toko, diam-diam aku dan kak Eldwin pergi ke kamar ayah untuk menyelidiki benda-benda atau apapun tulisan yang berhubungan dengan resep permen tersebut. Siapa tahu saja kami mendapatkan informasi tentang keberadaan resep itu sekarang. Setelah mencari cukup lama, kakakku menemukan sebuah buku dan isinya adalah cerita masa lalu ayah ketika menemukan resep permen itu. Kami menemukan sebuah nama yaitu Elora. Setelah kami pikir-pikir kembali tenyata kami mengenalnya. Itu adalah bibi kami yang tinggal di sebelah kota ini, hanya saja sudah lama sekali memang kami tidak pernah bertemu dengannya lagi. Akhirnya aku dan kak Eldwin memutuskan untuk pergi bertemu dengen bibi Elora. Tetapi ketika izin dengan ayah, kami tidak bilang kalau akan pergi ke rumah bibi Elora, karena kami tidak ingin sampai ayah tahu dengan penyelidikan yang kami lakukan. Setelah perjalanan selama satu jam. Kami pun sampai disana.
       “Kak, rumahnya sepi banget ya. Perasaan dulu ga kaya gini deh.” Tanyaku dengan perasaan takut.
       “Iya, jadi serem gitu ya. Yaudah yuk masuk aja keburu sore nantinya.” Jawab Kak Eldwin.
Aku dan Kak Eldwin masuk ke rumah itu, kami disambut dengan baik disana. Bibi Elora masih mengenali kami, tetapi bibi Elora sedang sakit sehingga hanya terbaring lemah tak berdaya di tempat tidurnya. Aku bertanya mengenai resep rahasia buatan ayahku.
       “Bibi, apakah tahu mengenai resep rahasia ayah.” Aku bertanya penuh harap.
       “Oh.... resep permen itu ya. Apakah sekarang resep itu hilang?” Jawabnya tenang.
       “Loh kok bibi tahu kalau resep ayah hilang?” tanya kak Eldwin.
       “Tentu saja tahu, karena hal ini sudah bibi duga dari awal. Sebaiknya kalian tidak usah lagi mencarinya itu hanya akan membahayakan nyawa kalian. Pulanglah dan jaga diri baik-baik.”
       “Tapi ayah kami benar-benar merasa sedih saat ini, kami tidak bisa membiarkannya begitu saja. Tolonglah bi, beri tahu kami dimana kami bisa mendapatkan kembali resep permen itu.” Jawabku.
       “Baiklah jika kalian memaksa. Dulu ayahmu adalah orang yang sangat rajin dan bekerja keras. Tetapi ada seseorang yang tidak suka dengan ayahmu sehingga ia melakukan segala cara untuk membuat ayahmu sengsara. Namanya adalah Algis, bibi duga ia yang mencuri resep ayahmu. Bibi juga tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi sudah bibi pastikan dialah orangnya. Jika kalian benar-benar ingin mendaptkannya kembali. Bibi akan memberikan rencana yang sudah bibi susun jika sewaktu-waktu hal ini sampai terjadi.’’
Bibi memberikan kami sejumlah rencana untuk mengambil kembali resep itu. Menurutku itu adalah rencana yang cemerlang. Lagi dan lagi aku tidak tahu mengapa bibiku sampai tahu kalau resep permen ayahku akan hilang. Setelah kami melakukan perjalanan yang sangat panjang, sampailah kami di sebuah pulau. Ketika kami turun dari perahu kami bertanya kepada salah seorang warga mengenai orang yang bernama Algis. Ternyata benar disana ada seorang bangsawan bernama Algis. Lantas kami langsung pergi kerumah bangsawan tersebut. Kami melakukan rencana yang telah dirancang oleh bibi. Satu persatu rencana kami mulai berhasil dan terselesaikan dengan baik. Kami menyamar menjadi seorang anak yang tersesat dan meminta bantuan kepada bangsawan itu. Sampai kami bekerja ditempatnya. Tinggal satu lagi, rencana terakhir kami untuk mendapatkan kembali resep rahasia itu. Ketika itu diam-diam kami pergi kekamarnya. Mencari dilemari bahkan disetiap sudut ruangan. Kata bibi, resep itu disimpan pada sebuah botol berwarna putih. Dan akhirnya aku menemukan botol itu, ya sangat persis dengan apa yang dikatakan oleh bibi. Ketika itu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kami benar-benar kaget ternyata bangsawan itu berdiri didepan pintu. “Apa yang sedang kalian lakukan disana? Seharusnya kalian tidak boleh melakukan itu. Akan kuberi pelajaran dan kalian tidak boleh keluar dari pulau ini selama-lamanya.”
Mendengar omongan bangsawan itu aku dan kakakku benar-benar merasa takut sekali. Kami langsung berlari melewati jendela dan dibelakang kami sekitar sepuluh orang berbadan tegap mengejar kami. Kami berlari sekuat tenaga dan akhirnya kami berhasil sampai dengan perahu yang sudah kami siapkan sebelumnya. Sepuluh orang tersebut ternyata juga mengejar kami dengan menggunakan perahu. Aku dan
kakakku pasrah dengan apa yang akan terjadi. Kami hanya berdiam dan tidak melakukan apapun. Tetapi tiba-tiba suatu keajaiban mucul. Perahu mereka menabrak karang. Aku dan kakakku segera mengayuh perahu dengan cepat. Sampailah kami di daratan. Dengan segera pulang kerumah dengan perjalanan yang sangat panjang. Akhirnya kami sampai dirumah. Ingin sekali aku menceritakan semuanya kepada ayah. Ketika kami baru sampai di ujung gang, ayah sudah berdiri didepan tokonya. Aku dan kakakku segera berlari.
       “Ayah... aku kangen banget sama ayah.” Sambil memeluk ayah.
       “Kalian ini ya.. udah dibilangin jangan kesana masih nekat juga.” Sambil merebut botol yang kak Eldwin pegang.”
       “Ayah kok tahu kami pergi kesana.” Tanya kakakku.
       “Sudah kalian jangan banyak tanya lagi. Pokokknya lain kali harus jujur sama ayah dan ga boleh pergi ketempat jauh.” Jawab ayahku sambil pergi masuk kedalam toko.
Kak Eldwin mengikuti ayah masuk kedalam toko, mungkin kak Eldwin lelah karena petualangan yang baru saja kami alami. Aku tetap berdiri diluar dan memandangi ayah yang senang sekali mendapatkan resep itu kembali. Aku tetap merasa aneh dan seperti ada rahasia yang masih sembunyikan oleh ayah. Resep itu pun masih menjadi misteri. Mengapa seseorang yang bernama Algis bisa sampai mengambil resep permen itu. Begitu pula mengenai ibuku, rahasia yang mungkin tidak akan pernah terungkap. Aku hanya bisa menatap toko permen yang didirikan ayah dengan kerja kerasnya dengan sejumlah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah tahu jawabannya.